Sistem distribusi makanan MBG adalah suatu rangkaian kegiatan yang terencana, terkoordinasi, dan terstandar yang mencakup proses pengemasan, penyimpanan sementara, pengangkutan, hingga penyerahan makanan dari dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada penerima manfaat. Sistem distribusi ini dirancang untuk menjamin mutu, keamanan pangan, serta kestabilan suhu makanan selama proses penyaluran, sehingga makanan yang diterima tetap layak konsumsi dan memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan. jenis peralatan dapur MBG yang di gunakan harus berbahan stenlis agar mudah dibersihkan
Penyelenggaraan sistem distribusi makanan MBG harus berlandaskan pada prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:
- Menjamin keamanan dan mutu pangan sejak makanan dikemas hingga diterima oleh penerima manfaat
- Menjaga kestabilan suhu makanan sesuai dengan ketentuan keamanan pangan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme berbahaya
- Mencegah terjadinya kontaminasi silang, baik dari lingkungan, peralatan, maupun petugas distribusi
- Menjamin ketepatan waktu pengiriman, kesesuaian jumlah porsi, dan ketepatan sasaran penerima
- Mendukung efisiensi operasional serta keterlacakan (traceability) distribusi melalui sistem pencatatan dan pelaporan yang tertib
Tahapan Sistem Distribusi Makanan MBG

1. Pengemasan Makanan
Pengemasan merupakan tahapan awal dalam sistem distribusi makanan MBG. Makanan yang telah selesai diolah dan dinyatakan lolos pengendalian mutu wajib dikemas menggunakan wadah berbahan food grade yang bersih, tertutup rapat, dan aman untuk pangan. Proses pengemasan harus dilakukan di area khusus yang terpisah dari area pengolahan bahan mentah untuk mencegah terjadinya kontaminasi. Pengemasan disesuaikan dengan jenis menu, porsi makanan, serta estimasi waktu tempuh distribusi agar mutu dan suhu makanan tetap terjaga hingga diterima oleh penerima manfaat.
2. Penyimpanan Sementara
Sebelum dilakukan pendistribusian, makanan dapat disimpan sementara pada fasilitas yang memenuhi standar, seperti food warmer untuk makanan panas atau chiller untuk makanan tertentu. Penyimpanan sementara dilakukan dengan pengaturan suhu yang sesuai dengan ketentuan keamanan pangan serta dibatasi dalam jangka waktu tertentu. Pengendalian waktu dan suhu penyimpanan menjadi faktor penting untuk mencegah penurunan mutu dan risiko kontaminasi mikrobiologis.
3. Pengangkutan dan Distribusi
Pengangkutan makanan dilakukan menggunakan sarana distribusi yang bersih, tertutup, dan layak, seperti kendaraan khusus distribusi makanan atau trolley makanan. Selama proses pengangkutan, suhu makanan harus dipertahankan sesuai standar keamanan pangan. Jalur distribusi dan jadwal pengiriman harus direncanakan secara efektif dan efisien guna menghindari keterlambatan serta memastikan makanan sampai dalam kondisi optimal. Petugas distribusi wajib menerapkan prinsip kebersihan diri dan menggunakan alat pelindung diri sesuai ketentuan.
4. Penyerahan kepada Penerima Manfaat
Penyerahan makanan kepada penerima manfaat dilakukan sesuai dengan jumlah sasaran dan jadwal yang telah ditetapkan. Pada tahap ini, petugas distribusi wajib memastikan kondisi fisik makanan masih layak konsumsi, kemasan dalam keadaan utuh, serta suhu makanan sesuai standar. Kegiatan penyerahan harus disertai dengan pencatatan dan dokumentasi sebagai bagian dari sistem pengawasan, pelaporan, dan evaluasi pelaksanaan program MBG.
Sarana dan Prasarana Distribusi
Untuk mendukung pelaksanaan sistem distribusi makanan MBG yang optimal, dapur MBG wajib menyediakan sarana dan prasarana distribusi yang memadai, antara lain:
- Wadah makanan (ompreng) berbahan food grade dan mudah dibersihkan
- Food warmer atau termos makanan untuk menjaga suhu makanan panas
- Trolley makanan untuk distribusi internal
- Kendaraan distribusi yang bersih, tertutup, dan layak operasional
- Peralatan pendukung pencatatan, pelabelan, dan pelaporan distribusi
Pengendalian dan Pengawasan Distribusi
Pengendalian dan pengawasan distribusi makanan MBG dilaksanakan secara berkelanjutan untuk memastikan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan dan prosedur operasional yang telah ditetapkan. Kegiatan pengawasan meliputi pemeriksaan kebersihan sarana dan prasarana distribusi, pemantauan suhu makanan, evaluasi ketepatan waktu dan jumlah distribusi, serta peninjauan kelengkapan pencatatan dan pelaporan. Setiap temuan ketidaksesuaian wajib segera ditindaklanjuti melalui tindakan perbaikan guna mencegah penurunan mutu makanan dan potensi gangguan kesehatan bagi penerima manfaat.
Kesimpulan
Sistem distribusi makanan MBG merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keberhasilan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Melalui penerapan sistem distribusi yang terencana, higienis, terkontrol, dan terdokumentasi dengan baik, makanan bergizi dapat disalurkan secara aman, tepat waktu, dan sesuai dengan sasaran program. Oleh karena itu, pengelolaan sistem distribusi makanan harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan program MBG guna menjamin tercapainya manfaat yang optimal dan berkelanjutan bagi masyarakat penerima program.
